TIGA TEORI TERKAIT MEDIA DAN MASYARAKAT
Media
dan masyarakat
Media masa, memberikan gambaran mengenai alat
komunikasi yang bekerja dalam berbaga skala terbatashingga dapat mencapai dan
melibatkan siapa saja dalam masyarakat dalam skala yang sangat luas. Media masa
sendiri dapat berupa surat kabar, majalah, film, radio, televisi, dan internet.
Namun, saat ini internet adalah sebuah media baru dalam ilmu komunikasi. Kenapa
demikian, karena media baru (internet) memiliki karakteristik yang berbeda
dengan media yang sudah ada sebelumnya. Media baru bersifat lebih individual,
lebih beragam dan lebih interaktif. Hal ini dapat di dilihat dengan berbagai social
media yang bermunculan ketika internet sudah menjadi konsumsi masyarakat.
Pada bahasan kali ini “Media dan Masyarakat” ada tiga
teori yang terkait. Ketiga teori itu ialah teori technological determinism,
teori agenda setting, dan teori spiral keheningan.
Teori Technological Determinism adalah teori yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan dalam tulisannya The
Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Asumsi dasar teori ini
adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan
membentuk juga keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu
bagaimana cara mereka berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi
tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi
ke abad teknologi yang lain. Penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya.
Perubahan di dalam jenis-jenis komunikasi akhirnya membentuk kehidupan manusia,
sebagaimana yang dikatakan McLuhan bahwa “Kita membentuk peralatan untuk
berkomunikasi, dan akhirnya peralatan untuk berkomunikasi yang kita gunakan itu
akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri. Inti dari teori Technological Determinism adalah penemuan atau perkembangan teknologi komunikasi itulah yang
sebenarnya yang mengubah kebudayaan manusia.
Jika kita lihat saat ini tidak ada satu segi kehidupan manusia pun yang
tidak bersinggungan dengan apa yang namanya media massa. Mulai dari ruang
keluarga, dapur, sekolah, kantor, pertemanan, bahkan agama, semuanya berkaitan
dengan media massa. Hampir-hampir tidak pernah kita bisa membebaskan diri dari
media massa dalam kehidupan kita sehari-hari. Teknologi komunikasi yang digunakan dalam media
massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia atau menurut Em Griffin disebut
nothing remains untouched by
communication technology. Dan dalam perspektif McLuhan, bukan isi yang
penting dari suatu media, melainkan media itu sendiri yang lebih penting.
Contoh yang dapat ditemui dalam realita yaitu perkembangan teknologi yang
semakin maju membuat segalanya serba ingin cepat dan instan. Teknologi sebagai
peralatan yang memudahkan kerja manusia membuat budaya ingin selalu dipermudah
dan menghindari kerja keras maupun ketekunan. Teknologi juga membuat seseorang
berpikir tentang dirinya sendiri. Jiwa sosialnya melemah dikarenakan merasa
tidak memerlukan bantuan orang lain jika ingin menghendaki sesuatu, cukup
dengan teknologi sebagai solusinya. Akibatnya, tidak jarang dengan tetangga
dekat kurang begitu akrab karena telah memiliki komunitas sendiri, meskipun
jarak memisahkan, namun berkat teknologi tak terbatas ruang dan waktu. Solusi agar budaya yang dibentuk
di era elektronik ini tetap positif, maka harus disertai dengan perkembangan
mental dan spiritual. Diharapkan informasi yang diperoleh dapat diolah oleh
pikiran yang jernih sehingga menciptakan kebudayaan-kebudayaan yang humanis. Perkembangan
teknlogi memiliki dampak positif dan dampak negatif. Teknologi memiliki peranan
penting dalam bidang pendidikan yaitu dengan munculnya media massa, khususnya
media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan berdampak bahwa guru
bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Sistem pembelajaran tidak harus
melalui tatap muka. Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus
mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa internet dan
lain-lain.
Disamping
itu juga muncul dampak negatif dalam proses pendidikan antara lain, penyalahgunaan
pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita
tahu bahwa kemajuan di bidang pendidikan juga mencetak generasi yang
berepngetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu
komputer yang tingi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan
lain-lain. Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang
sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positipnya antara lain,
kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru
di bumi bagian manapun melalui internet, kita dapat berkomunikasi dengan teman,
maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone, dan lain-lain.
Dampak
negatif yang terjadi pada masyarakat salah satunya adalah ketergantungan. Salah
satu teknologi yang sering digunakan adalah media komputer, media komputer ini
memiliki kualitas atraktif yang dapat merespon segala stimulus yang diberikan
oleh penggunanya. Terlalu atraktifnya, membuat penggunanya seakan-akan
menemukan dunianya sendiri yang membuatnya terasa nyaman dan tidak mau
melepaskannya. kita bisa menggunakan komputer sebagai pelepas stress dengan
bermain games yang ada. Ketergantungan dapat ditanggulangi atau
diminimalisasikan dengan adanya bantuan dari lingkungan dan orang-orang sekitar
kita, yang dapat menyadarkan pengguna addict tersebut dengan menawarkan
kegiatan lain yang lebih menarik dari pada yang ditawarkan oleh komputer. Serta
memberikan motivasi untuk memperbanyak kegiatan di luar rumah (menyibukkan
diri) seperti olahraga, traveling, bersosialisasi dengan teman, maka akan lebih
sedikit waktu yang dihabiskan di depan komputer.
Teori
Penentuan Agenda (bahasa Inggris:
Agenda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku
merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk
mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik
dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang
dianggap penting oleh media massa.
Teori
Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada
konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian
empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan
presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang
meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang
disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka
menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang
penting dalam membentuk realitas sosial kita, ketika mereka melaksanakan tugas
keseharian mereka dalam menonjolkan berita.
McCombs
dan Shaw pertama-tama melihat agenda media.
Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh
pemberitaan media terebut. Mereka melihat posisi pemberitaan dan panjangnya
berita sebagai faktor yang ditonjolkan oleh redaksi. Untuk surat kabar,
headline pada halaman depan, tiga kolom di berita halaman dalam, serta
editorial, dilihat sebagai bukti yang cukup kuat bahwa hal tersebut menjadi
fokus utama surat kabar tersebut. Dalam majalah, fokus utama terlihat dari
bahasan utama majalah tersebut. Sementara dalam berita televisi dapat dilihat
dari tayangan spot berita pertama hingga berita ketiga, dan biasanya disertai
dengan sesi tanya jawab atau dialog setelah sesi pemberitaan.
Sedangkan
dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang
didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan
antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik atau pemilih
tadi, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa.
McCombs
dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab
terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa
yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau
masyarakat.
Akan
tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu
juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan
terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun
demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media
biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan
masyarakat umum.
Berita
tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada
pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang
bukan berita.
Setelah
tahun 1990an, banyak penelitian yang menggunakan teori agenda-setting makin
menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi benak khalayaknya. Media
massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media
mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu,
kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita
berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai framing.
McCombs
dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting, bahwa “the
media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and
what to think about it, and perhaps even what to do about it”
Spiral
keheningan adalah
sebuah teori media yang lebih memberikan perhatian pada
pandangan mayoritas dan menekan pandangan minoritas. Mereka yang berada di pihak
minoritas cenderung kurang tegas dalam mengemukakan pandangannya. Kelompok
minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya
ketika berada dalam kelompok mayoritas. Seseorang sering merasa perlu
menyembunyikan “sesuatu”-nya ketika berada dalam kelompok mayoritas.
Sebaliknya, mereka yang berada di pihak mayoritas akan merasa percaya diri
dengan pengaruh dari pandangan mereka dan terdorong untuk menyampaikannya
kepada orang lain. Maka dari itu, hal ini berangkat dari asumsi akan adanya
ketakutan dari individu-individu akan isolasi dari masyarakat. Ketakutan itu muncul jika
individu-individu mempunyai opini yang berbeda bahkan berseberangan dengan
opini mayoritas masyarakat. Individu yang opininya berbeda dengan mayoritas
masyarakat akan cenderung bungkam (silence) karena takut akan isolasi yang
mungkin diterimanya. Secara sosiologis, teori Spiral keheningan mengakui bahwa
ketakutan individu akan isolasi ini hanya berlaku
pada masyarakat kurang terdidik dan miskin, irasional, dan tidak memiliki
dedikasi untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan bertanggung jawab.
Teori ini dikemukakan oleh Elisabeth noelle-neumann seorang ilmuan politik asal
Jerman lewat tulisannya yang berjudul the
spiral of silence. Spiral keheningan dibangun dengan empat unsur pokok,
yaitu :
- Media Massa
- Komunikasi Antar-pribadi dan jalinan interaksi sosial
- Pernyataan individu tentang suatu hal
- Persepsi orang lain/kecenderungan pendapat
tentang suatu persoalan yang dilontarkan
5. Teori Spiral
Keheningan ini dapat diuraikan sebagai berikut: individu memiliki opini tentang
berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi
menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari
dukungan bagi opini mereka dari lingkungannya, terutama dari media massa.
6. Media massa –
dengan bias kekiri-kirian mereka – memberikan interpretasi yang salah pada
individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada
berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya
menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.
7. Sebagai akibatnya,
individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas
sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih
banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu,
dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut
akan terisolasi. Selama waktu tersebut, karena ‘mayoritas yang bisu’ tetap
diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat
menjadi dominan.